Minggu, 16 Desember 2007

Apakah Peristiwa Mi'raj Nabi SAW Tertulis di Dalam Al-Qur'an?

Assalamu'alaykum Wr. Wb.

Peristiwa Isra' dan Mi'raj merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam ajaran agama Islam.

Dalam permulaan surat Al-Isra' diterangkan secara singkat mengenai peristiwa Isra' Nabi Muhammad SAW; yakni perjalanan beliau dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa'.

Namun pertanyaan saya, apakah peristiwa Mi'raj juga diterangkan atau tertulis pula di dalam Al-Qur'an? Pada isi surat apa dan ayat ke berapa?

Demikian pertanyaan saya, dan terima kasih.

Wassalam

Farid Primadi
primadi@gmail.com

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Meskipun peristiwa Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW dilakukan dalam satu paket perjalanan dan dilaksanakan di malam yang sama, namun penyebutannya di dalam Al-Quran ternyata diletakkan di dua ayat yang berbeda. Bukan hanya beda ayatnya tetapi juga berbeda suratnya.

Namun yang pasti, baik peristiwa Isra' maupun peristiwa Mi'raj, keduanya memang disebutkan di dalam Al-Quran Al-Kariem. Dan tidak benar kalau dikatakan bahwa mi'rajnya nabi Muhammad SAW tidak disebutkan di dalam Al-Quran.

Masalahnya orang sering terkecoh dengan ayat pertama surat Bani Israil atau surat Al-Isra', di mana memang hanya disebutkan tentang isra' saja. Sedangkan mi'raj, yaitu perjalanan naik ke langit tujuh hingga ke sidratil muntaha (the final frontier), tidak disebut-sebut di dalam ayat itu secara tegas.

Ternyata, kisah tentang bagaimana Rasulullah SAW naik ke langit hingga ke sidratil muntaha disebutkan di dalam ayat yang lain, yaitu surat An-Najm (bintang), ayat 13 sampai ayat 18.

Silahkan ambil mushaf dan bukalah surat dengan nomor urut 53, nama suratnya An-Najm yang berarti bintang.

Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha.Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratilmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (QS. An-Najm: 13-18)

Umumnya para ulama tafsir menyebutkan bahwa ayat inilah yang menyebutkan dengan tegas peristiwa mi'raj nabi Muhammad SAW. Beliau sampai ke sidratil muntaha dan melihat wujud malaiakat Jibril dalam keadaan aslinya.

Memang ayat ini tidak secara tegas menyebut kata mi'raj, karena itu orang awam yang membaca Al-Quran sambil lalu, apalagi yang tidak tahu artinya, jelas akan membaca begitu saja.

Tapi mereka yang sering membuka kitab tafsir, biasanya akan segera tahu. Karena kitab tafsir itu memang kitab yang dikhususkan untuk menjelaskan tiap potong ayat Al-Quran. Maka tidak ada informasi sekecil apapun di dalam Al-Quran, kecuali dijelaskan di dalam kitab tafsir.

Maka berbahagialah mereka yang melek huruf arab dan mampu membaca dalam bahasa arab. Karena kitab-kitab tafsir umumnya disusun dalam bahasa arab, bahasa resmi umat Islam sedunia sejak masa Nabi SAW sampai hari kiamat nanti.

Kalau masih ada kalangan muslim, apalagi ustadz, da'i, penceramah, tokoh Islam, tapi belum menguasai bahasa arab, sungguh kasihan kita melihat mereka. Karena kunci ilmu agama tidak di tangan mereka, maka informasi yang mereka miliki sangat terbatas, paling banter dari buku terjemahan.

Padahal nyaris hampir semua kitab yang penting dalam agama ini, baik tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqih, akhlaq, sirah dan seterusnya, semua ada di internet, bisa didowload dengan gratis, sampai hardisk cadangan kita penuh semua, buku berbahasa arab masih berlimpah.

Jadi, secepatnya saja belajar bahasa arab, mumpung dunia belum kiamat.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

sumber:eramuslim.com

Bolehkah Ayat Alqur'an Dijadikan Ringtone?

Assalamu'alaikum wr wb

Ustadz yang di rahmati Allah SWT, saya baru saja melihat berita online detik. Com di mana ada sebuah artikel yang tentang ringtone yang diambil dari ayat - ayat Alqur'an dan kini masih diperdebatkan boleh atau tidaknya.

Hanya saja bagi saya hal seperti ini menimbulkan masalah baru saja karena Alqura'an itu bukan sarana hiburan melainkan pedoman hidup kita.

Bagaimana kita menyikapinya Ustadz?

Sekian dan terima kasih

Wassalam

Hamba Allah

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabaraktuh,

Salah satu penyebab mengapa ada kalangan yang tidak setuju kalau rekaman ayat Quran dijadikan ringtone pada hp adalah karena ayat itu akan terputus-putus tanpa bisa diselesaikan.

Sebab yang namanya ringtone pada dasarnya adalah nada panggilan yang tujuannya untuk memberitahu pemilik hp bahwa ada seseorang di seberang sana minta izin untuk bicara. Ada jeda waktu tertentu sebelum pemilik hp membuka percakapan. Tetapi lamanya tidak pasti.

Oleh sebagian orang yang kreatif, nada panggil yang biasanya berupa ringtone yang variatif diganti dengan rekaman bacaan Quran. Kreatif memang, tetapi masalahnya ya itu tadi. Ayat-ayat itu akan terpenggal-penggal tidak karuan, belum habis ayat itu dibacakan, harus terpenggal begitu saja.

Wajar bila sebagian kalangan kurang sependapat dengan ide ringtone ayat Quran ini. Dalam pandangan mereka, pemenggalan itu merupakan salah satu bentuk kekurang-hormatan pada ayat Quran. Setidaknya, merupakan penempatan ayat Quran bukan pada tempatnya.

Belum lagi masalahnya bila saat seseorang masuk ke dalam WC umum, tentunya hp-nya tidak akan ditinggal di luar. Bagaimana kalau tiba-tiba hp itu berdering melantunkan rekaman ayat suci, bukankah justru merupakan penghinaan?

Rasanya alasan mereka yang kurang setuju dengan rongtone ayat Quran cukup beralasan. Dan setidaknya kita tidak harus menggunakan ringtone ayat Quran dalam hp kita. Toh juga tidak ada perintahnya dalam agama.

Dan kalau pun para penggemar ringtone Quran masih ingin bersikeras memakainya, harus dijamin bahwa hp itu tidak pernah masuk ke WC atau tempat-tempat yang tidak suci. Juga perlu dipastikan agar potongan ayatnya tidak terlalu panjang, agar tidak terpenggal-penggal yang merusak arti dan tata cara membaca Al-Quran.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabaraktuh,

Ahmad Sarwat, Lc

sumber:eramuslim.com

Mengapa Tokoh dan Ormas Islam di Indonesia Tidak Bisa Bersatu

Assalamu 'alaikum Wr. Wb.

Semua tokoh-tokoh umat Islam di Indonesia tahu bahwa persatuan itu perlu, dan begitu juga dengan ormas-ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah, tapi mengapa mereka tidak bisa bersatu.

Apakah tokoh-tokoh umat ini dan pimpinan-pimpinan ormas-ormas Islam ini tidak berdosa Ustadz, karena gara-gara mereka Umat Islam di Indonesia hancur dan bercerai berai?

Muchlis
muchlis_nurdin@yahoo.co.id

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang apa yang anda tanyakan ini termasuk masalah besar yang sering mengusik perhatian kita. Kami cenderung untuk tidak terlalu mudah menuduh mereka sebagai orang yang berdosa. Sebab di lapangan kerja yang nyata, memang ada beberapa kendala yang perlu kita pahami.

Sebab kalau belum apa-apa kita sudah main tuduh mereka berdosa, sebenarnya sikap kita sendiri sudah menggambarkan mentalitas kita yang juga tidak pandai untuk bersatu.

Sebagai muslim yang baik, yang harus kita tanamkan adalah sikap berbaik sangka (husnudzdzan) kepada siapa pun, sambil tetap memberi ruang untuk adanya harapan tanpa lupa untuk tetap berusaha.

Rasanya masih ada secercah harapan di balik perasaan kecewa melihat kurang kompaknya para pemimpin umat. Ada beberapa hal yang barangkali bisa kita jadikan catatan tentang hal ini.

1. Belum Ada Pola Implementasi

Sebenarnya semangat untuk bersatu di kalangan pemimpin umat bukan tidak ada sama sekali. Hanya yang sering jadi kendala adalah masalah implementasinya. Buktinya kalau kita bertemu langsung dengan para tokoh itu dengan topik persatuan, maka mereka adalah orang-orang yang menyatakan diri berada pada garis terdepan untuk mengusungnya.

Tinggal terkadang implementasinya yang belum jelas. Mungkin juga memang belum dicanangkan dalam visi dan program kerja. Semangatnya ada, tapi teknis implementasinya masih rada samar.

Ke depan, kita berharap agar wacana persatuan umat Islam selalu dikedepankan oleh para tokoh, agar bisa menjadi kenyataan yang tidak terlalu jauh.

2. Masalah Perbedaan Paradigma

Selain itu barangkali masalahnya juga karena faktorparadigma masing-masing tokoh itu.Seringkali kita dapati di leveltokoh nasional bahwa paradigma untuk bisa bekerjasama seiring sejalan dengan sesama ormas Islam lain sudah sering bergema, sehingga sudah bukan hal yang asing lagi.

Namunyang harus kita terima adalah lain elit lain akar rumput. Di level akar rumput, seringkalipersoalan tidak sesederhana di level elit. Terutama urusan 'persaingan' dengan kompetitor. Bahkan tidak jarang memang masih kita rasakan sisa-sisa semangat masa lalu yang sebenarnya untuk ukuran zaman sekarang sudah kurang relevan lagi.

3. Orang Lama dan Orang Baru

Biasanya kendala kurang bersatu ini masih menghantui 'orang-orang lama' yang belum bisa melihat angin perubahan. Di kalangan tertentu memang terkadang masih ada semangat kebanggaan masa lalu yang tidak lepas dari rasa ingin dipandang berjasa dan merasa benar sendiri. Atau semacam rasa ingin dianggap sebagai tokoh di depan para juniornya.

Kita bisa maklum kalau hal itu masih belum bisa dengan mudah dihilangkan secara tiba-tiba. Insya Allah kita berharap seiring dengan pergantian generasi, ada setitik pencerahan dari para calon pemimpin ormas Islam di masa mendatang, di mana semangat persatuan umat bisa dijadikan tujuan yang bersifat prioritas.

Karena itu sebelum habisnya masa jabatan para pemimpin ormas itu, tidak ada salahnya kita bersikap luhur kepada mereka dengan menjungjung tinggi semua prestasi yang telah mereka capai selama ini. Kita tidak perlu terlalu mencari-cari kesalahan mereka, karena kalau dicari memang pasti akan selalu ada.

Yang kita pikirkan sekarang mungkin adalah berharap kepada calon pemimpin masa depan dari masing-masing ormas, agar mereka nantinya punya apresiasi yang baik tentang urgensi persatuan umat.

4. Persatuan Pernah Ada Meski Tergantung Even

Bukti bahwa semangat untuk bersatu itu ada, ialah tatkala awal tahun 90-an Bosnia dianeksasi oleh Serbia di bawah pimpinan Slobidan Milosevic. Kami masih ingat saat itu, nyaris hampir tidak ada ormas atau orsospol yang tidak mendukung perjuangan umat Islam Bosnia. Bahkan setiap jamaah dan kelompok yang selama ini terkesan kurang kompak, tiba-tiba bahu membahu menggalang dana dan solidaritas untuk rakyat Bosnia.

Umat Islam se Indonesia seakan tersentak kaget melihat tayangan video yang menyayat hati. Rekaman demi rekaman yang sampai ke negeri kita menggambarkan bagaimana sadisnya tentara Slobodan membantai nyawa tak berdosa, sedangkan korban itu beragama Islam.

Bahkan pak Harto sampai berangkat sendiri ke sana dan bahkan membangun masjid. Padahal sebelumnya, dia dianggap musuh umat Islam karena tindakannya yang agak represif. Namun tahun-tahun itu boleh dibilang tahun kemesraan umat Islam dengan mantan penguasa orde baru.

5. Persatuan dalam Bentuk KerjaNyata yangProduktif

Terkadang kita memang tidak boleh berharap terlalu banyak untuk mewujudkan impian di mana ormas-ormas Islam itu bersatu, melebur jadi satu. Rasanya agak aneh kalau memang yang diharapkan seperti itu.

Tetapi persatuan boleh saja tidak dalam bentuk bersatunya ormas Islam. Melainkan dengan bersatunya sekian banyak unsur umat Islam dalam wadah lain yang lebih bersifat produktif. Misalnya, seandainya umat ini bisa membangun jaringan media massa sendiri, katakanlah bisa membangun stasiun TV. Di dalamnya ada putera terbaik dan profesional dari beragam ormas, meski tidak secara resmi menjadi wakil atau utusan.

Lalu jaringan pers ini bisa mengusung kebersamaan, persatuan, keberpihakan kepada ormas-ormas Islam dan seterusnya. Rasanya persatuan model begini lebih realistis. Selain juga sudah langsung ke arah kerja nyata, bukan lagi baru sekedar formalitas.

Atau misalnya para kader dari sekian banyak ormas itu bisa membangun kekuatan industri dalam negeri yang kuat dan punya nilai bargaining tinggi di pasarinternational. Misalnya industri Informasi Teknologi (IT).

6. Komunikasi

Harus kita akui bahwa saluran komunikasi yang tersumbat terkadang sering menjadi salah satu faktor kurang kompaknya para tokoh. Padahal kalau seandainya forum silaturrahim di antara mereka bisa dibangun, tentu kesan bahwa mereka tidak kompak bisa ditepis.

Mereka sebenarnya cukup kompak, tapi karena jarang bertemu, akhirnya terkesan kurang akrab.

Ke depan, kita berharap para tokoh ini bisa sering-sering duduk bersama sambil membahas kendala umat dalam semangat persatuan umat. Dan beberapa agenda sudah nampak berjalan.

Kita berdoa kepada Allah agar hati para pemimpin umat itu bisa dilunakkan untuk dapat saling mengasihi dalam koridor cinta kasih kepada Allah, Amien.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

sumber:eramuslim.com

Bom Syahid Membunuh Wanita dan Anak-Anak?

Assalamu'alaikum

Pak ustadz, ana mau nanya pendapat ustadz tentang bom syahid yang sedang marak beberapa waktu yang lalu.

Ada sebagian kalangan yang tidak setuju dengan alasan korban bom tersebut bisa jadi anak-anak dan ibu-ibu, dan lagi tindakan tersebut malah membuat israel semakin membabi buta.

Ada sebagian kalangan yang malah menyebutnya hal tersebut adalah sama dengan bunuh diri.

Mohon penjelasan. jazakallah sebelumnya.

As-shiddiq

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Siapa pun orang Israel yang sekarang ini ada di dalam wilayah negara Palestina, apakah dia anggota tentara atau sipil biasa, apakah dia laki-laki atau perempuan, dewasa atau anak-anak, semua adalah penjajah. Semuanya adalah agresor.

Sebab mereka masuk ke sebuah negeri yang berdaulat tanpa permisi, malah datang dengan mesiu dan bedil, langsung membumi hangus negeri, membunuh rakyat, menembaki anak-anak, merampas harta, menculik aktifis, menyiksa para pemimpin perlawanan, mengusir suatu bangsa.

Pendeknya, mereka 100% adalah penjahat dan pelaku kriminal. Masuk tanpa passpor dan visa. Itu saja sudah cukup untuk dijadikan alasan untuk menembak mati di tempat, siapa pun mereka.

Sudah jutaan kali mereka diperingatkan untuk keluar dari Palestina, tanah yang mereka rampas. Tapi mereka masa bodoh saja. Malah gelombang pendatang yahudi semakin besar saja.

Kini giliran bangsa Palestina sudah bisa bangkit membalas, kok tiba-tiba bilang bahwa bom syahid itu tidak manusiawi, karena membunuh rakyat sipil.

Kita balik bertanya, "Hei Yahudi, apakah kalian tidak ingat bahwa kalian datang kemari sebagai perampok dan pencoleng? Kok tiba-tiba perampok bisa-bisanya bilag bahwa tuan rumah kejam dan tidak berprikamanusiaan?"

Inilogika bengkok dansulit untuk diterimaakal sehat. Kalau giliran yahudi membombardir bangsa Palestina dengan hujan bom, mereka anteng dan santai saja. Tidak ada yang teriak untuk melindungi anak-anak tidak berdosa. Eh, giliran bangsa Palestina menembak dan meledakkan musuh mereka, mereka bilang melanggar HAM. Memangnyakita ini orang bodoh, kok mau-maunya dikibuli yahudi?

Maka wajar bila para ulama dunia bukan sekedar menghalalkan aksi peledakan bom di pemukiman yahudi, tetapi malah menganjurkannya. Kalau aksi itu dianggap bunuh diri, maka mereka memang sudah pasti mati juga. Kalau tidak hari ini, mungkin besok atau lusa. Semua sama saja, mau mati hari ini atau besok. Bedanya hanya masalah waktu.

Kalau tidak percaya, berangkatlah ke Palestina. Tidak usah lama-lama, seminggu saja. Dan rasakan betapa hidup di bawah pendudukan kafir yahudi itu tidak enak. Mati mungkin lebih baik. Bayangkan mereka sudah mengalami pendudukan sejak tahun 1948, nyaris beberapa tahun setelah kita merdeka.

Kenapa sekarang kita malah ikut membantu yahudi dengan mengatakan bom syahid itu sebagai aksi kekerasan?

Mitos Besar Yang Sudah Runtuh
Salah satu mitos besar yang sudah runtuh adalah kepercayaan tahayyul bahwa bila yahudi diserang dengan kasar dan senjata, mereka akan tambah ngamuk.Zaman dahulu mungkin masih ada sebagianorang yang percaya mitos ini.

Tapi hariini yangpercaya mitos ini hanyalah mereka yang sudah dibeli jiwanya oleh yahudi. Mereka yang jadi pengkhiatan bangsa dan rela berdamai dengan yahudi di meja perundingan.

Tapi bagi seluruh rakyat Palestina, mitos ini sudah tumbang sejak lama, setiaknya sejak tahun 1987, saat terjadi gelombang perlawanan besar-besaran Hamas. Ternyata melihat bangsa Palestina maju pantang mundur, tidak takut peluru, justru tentara yahudi lari tunggang langgang.

Padahal yang maju hanya anak-anak kecil berbekal batu kerikil. Sama sekali tidak bisa kita percaya kalau tidak melihat sendiri. Betapa tidak, pasukan terlatih yang mitosnya setinggi gunung, ternyata nyalinya kecil. Buktinya mereka takut bila bangsa Palestina maju menyongsong peluru.

Kalau kerikil anak-anak Hamas di tahun 1987 itu sudah cukup bikin mereka gentar, apalagi sekarang. Anak-anak itu sekarang sudah besar dan sudah bisa bikin bom yang siap meledakkan yahudi menjadi serpihan daging cincang.

Bahkan sekarang mereka tidak perlu lagi mengikat badan dengan bom dan meledakkannya, karena ilmu pengetahuan dan teknologi mereka semakin berkembang. Jangan kaget kalau tiba-tiba mereka bisa bikin roket yang bisa ditembakkan langsung di jantung Tel Aviv atau pusat komunitas yahudi. Roket itu tidak terdeteksi di layah radar, karena tidak terbang terlalu tinggi. Tapi tetap bisa menjangku wilayah yang ingin dijadikan neraka.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

sumber:eramuslim.com

Jepang Lebih Islami dari Indonesia?

Assalamualikum Wr Wb,

Pak Ustadz yang saya hormati, langsung saja ya Pak. Saya tinggal di Japan, dan saya melihat di sini bahwa judi, minuman keras dan free sex sudah menjadi barang yang umum dan bukan sebuah kriminal(asal tidak mengganggu ketertiban umum versi Undang-Undang Japan).

Yang jadi pertanyaan adalah, sering semasa saya di Indonesia, ustadz-ustadz saya mengatakan bahwa Judi, minum2-an keras dan sex bebas akan merusak sebuah masyarakat.judi membuat org jadi malas bekerja, minuman keras akan menjadikan masyarakat kacau, dll.

Namun yang saya liat di Japan ini kok tidak seperti yang dikatakan ustadz-ustadz saya di Indonesia ya Pak??Di sini yang judi ya judi... Kerja ya kerja(kerja keras malahan, n ga malas2)..tp tetap jujur, amanah, tepat waktu, tanggung jawab sama kerjaan.profesional deh sikapnya... Tdk suka ngeles kyk di Indonesia klo kerjaannya ga beres.

Padahal klo saya tidak salah, di Qur'an sudah jelas-jelas dilarang hal-hal itu karena agar masyarakat jadi baik.

Saya jadi berpikir, sebenarnya apa sih yang bikin masyaraat jadi baik? Agama ato tegaknya aturan? Di Japan ini yang jelas-jelas orang tidak mengenal Tuhan, tapi karena aturan dan sangsi yang tegas.orang jadi tunduk..di sini ga kenal namanya zakat... Tp pajak dan itu sangat di taati, ga kenalyangnamanya kerja adalah ibadah... Tp kerjanya lbh bagus dr kita..lbh punya spirit, ga kenalyangnamanya dalil-dalil agar jujur... Tp mrk jujur-jujur..dll.

Sementara di Indonesia dan negara-negara Arab sana(yang tempat turunnya para Nabi) yang agama dipandang suatu hak mutlak untuk dimiliki dan dijalankan... Tapi pelaksanaannya jauh lebih tidak berperikemanusiaan.Astagfirullah.

Tolong ya Pak Ustadz.saya lagi mencari pencerahan.

Terima kasih atas jawabannya

Wasalam,

Nurman

dadiq78
dadiq78

Jawaban

Assalamu 'alaikum warhmatullahi wabarakatuh,

Barangkali yang sedang anda rasakan ini sama dengan yang dirasakan oleh ulama Mesir di masa lalu. Beliau adalah seorang Muhammad Abduh.

Beliau sempat pergi dan melihat-lihat Eropa, meski pun beliau berasal dari Mesir. Di Eropa beliau cukup terkesima melihat kehidupan yang teratur, birokrasi yang profesional, kebersihan yang terpelihara di mana-mana, penghargaan terhadap waktu dan seterusnya.

Semua sangat kontradiktif dengan yang beliau dapati di negerinya sendiri, Mesir. Di sana kehidupan sangat tidak teratur, birokrasi sangat lambat bagai kura-kura jalan di tempat, kebersihan dan keindahan kurang mendapat perhatian, orang banyak buang waktu sia-sia dengan nongkrong di warung kopi.

Sehingga muncullah ungkapan beliau yang sangat terkenal itu. Di Eropa kita melihat Islam tapi tidak melihat kaum muslimin. Dan di Mesir kita melihat umat Islam tapi tidak melihat Islam.

Jadi memang ada benarnya apa yang sekarang ini terlintas di benak anda. Mungkin di Jepang ada Islam tapi minim umat Islam. Islam yang dimaksud adalah kebersihan, ketertiban, keprofesionalan, efisiennya birokrasi, kemajuan teknologi dan seterusnya.

Sedangkan di Indonesia, umat Islam jumlahnya ada 200 juta, tapi penerapan ajaran Islam dalam bentuk keberishan, keindahan, kerapihan, profesionalisme dan seterusnya, mungkin masih belum ada apa-apanya dibandingkan yang sudah berjalan di Jepang.

Implementasi Syariah Islam di Negeri Islam

Harus kita akui bahwa nyaris di semua negeri Islam, syariat Islam yang sudah dijalankan masih terlalu sedikit. Jangan dulu bicara hukum potong tangan, qishash, merajam pezina, atau mencambuk peminum khamar, bahkan sekedar shalat 5 waktu sekalipun, rasanya kok masih sedikit yang melakukannya.

Bukankah kendaraan di jalan raya masih tetap berseliweran saat khatib sudah naik mimbar Jumat? Apakah mereka yang di dalam mobil itu tidak pada shalat Jumat?

Bukankah jalan-jalan di kota Jakarta justru sangat padat pada jam-jam shalat Maghrib? Lalu kapan mereka melakukan shalat Maghrib? Di dalam mobil dan bus? Rasanya tidak mungkin.

Bukankah pusat perbelanjaan seperti mal dan sejenisnya, juga semakin padat justru pada jam shalat Maghrib? Lalu di mana mereka melakukan shalat maghrib? Di mushalla mal yang ukurannya 2 x 1 meter persis selebar kuburan?

Nah kalau anda bilang bahwa di Indonesia seharusnya lebih aman karena tidak ada orang mabuk, rasanya kurang tepat. Sebab jumlah peminum minuman keras di Indonesia mungkin malah jauh lebih banyak dari pada di Jepang.

Jumlah orang yang berzina di negeri kita mungkin juga lebih banyak dari Jepang. Termasuk jumlah orang yang nyolong, merampok, makan uang rakyat, termasuk menipu rakyat dan menjual aset negara, jumlahnya tidak pernah berkurang.

Dan ingat, negeri kita ini masih termasuk negeri yang tertinggi dalam prestasi korupsinya. Sebab dilakukan secara berjamaah mulai dari struktur pemerintahan terendah sampai yang tertinggi. Anda bisa bayangkan, kalau seorang Menteri Agama yang harusnya mengurus kebajikan dan amal shaleh, selesai jadi menteri malah masuk penjara untuk urusan yang sangat memalukan: korupsi.

Jadi jangan dulu berharap terlalu besar kepada Indonesia dalam masalah hasil penerapan Islam, walau pun secara kebetulan penduduknya mengaku beragama Islam. Sebab Islam yang mereka maksud ternyata tidak lebih dari sekedar formalitas, adapun urusan implementasi, rasanya masih banyak yang belum dilaksanakan sepenuhnya. Baik secara individu apalagi komunitas.

Jepang dan Negara Maju

Tapi sebaliknya, anda pun jangan berbangga dulu dengan kemajuan yang ada di negara Jepang, Eropa, Amerika dan lainnya.

Sekilas mereka memang kelihatan lebih maju, kaya, modern, profesional dan serba otomatis. Sehingga kita jadi seperti orang kampung masuk kota yang norak dan ndeso.

Namun anda harus akui bahwa kehidupan moral mereka pun jauh lebih bejat dari binatang. Bayangkan, zina mereka lakukan sudah bukan lagi dengan lawan jenis tetapi dengan sesama jenis. Bahkan dilegalkan menjadi keluarga, di mana ayah dan ibunya sama-sama laki-laki, ih jijay!

Apa itu yang kita bilang kemajuan? Nanti dulu

Penyakit kelamin semacam spilis, gonorhae bahkan HIV di negeri maju ang kita banggakan itu ternyata bukan hanya melanda para PSK saja, tetapi sudah menjadi penyakit semua orang termasuk anak-anak. Kita tidak bisa bayangkan kalau murid SD sudah terjangkit penyakit kelamin.

Orang tua anda selama masih hidup di Indonesia, insya Allah masih akan kita ajak tinggal di rumah kita, di ruma salah satu anak beliau. Sementara di negeri maju yang kita banggakan itu, orang tua bila dianggap sudah tidak berguna lagi, maka tempatnya cuma satu: panti jompo.

Dan anda kalau terus-terusan tinggal di jepang, setelah pensiun dan tidak berguna lagi dalam beberapa tahun lagi, siap-siap dijebloskan ke panti jompo.

Dan sebagai bagian dari warga negara maju, anda harus ikhlas kalau malam ini isteri anda harus tidur dengan atasannya, besok malam dengan bawahannya, besoknya lagi tidur dengan sopir perusahaan, besoknya lagi ditiduri oleh pengantar Pizza. Sebab anda pun harus melakukannya juga dengan bawahan anda, atau dengan isteri tetangga, atau dengan rekan bisnis.

Seks bebas yang mengakibatkan penyakit kelamin sudah dianggap biasa, bahkan merupakan keharusan. Kita sebagai rakyat Indonesia yang masih normal, rasanya bulu roma ikut bangun mendengarnya.

Jadi kalau ditimbang-timbang, sebenarnya kemajuan Eropa, Amerika, Jepang dan negeri maju lainnya, tidak terlalu mempesona juga. Apalagi di sana kita tidak bisa makan gado-gado lontong, cuma makan roti dan keju yang tanpa rasa itu. Biar bagaimana pun, sop kaki sapi Tenabang tetap lebih nikmat rasanya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warhmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

sumber:eramuslim.com

Bantuan untuk Perjuangan Palestina

Assalamu'alaykum warahmatullah wabarakatuh

Ustadz, bagaimana caranya kita bisa membantu perjuangan saudara-saudara kita di palestina dan tepat sasaran? Pernah ana dengar bahwa bantuan yang dikirimkan dari dunia luar ke Palestina ditahan oleh pasukan zionis di perbatasan, jadi seolah-olah bantuan yang begitu besarnya tidak sampai ke sasaran.

Dan kalaupun bisa masuk, dikelola oleh orang-orang pemerintah yang notabene pendukung penjajah israel.

Mohon saran dari Ustadz.

Terimakasih.jazakallah

Wassalamu'alaykum warahmatullah wabarakatuh

Fy
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Menurut para tamu kita yang berasal dari Palestina, memang sulit sekali bantuan bisa masuk ke dalam Palestina dari luar. Lewat bank boleh dibilang mustahil, apalagi lewat Bandara.

Sehinggaseakan saudara kita yang berada di Palestina sedang dipenjara di dalam negeri mereka sendiri. Tidak bisa keluar dan tidak bisa masuk. Maka satu-satunya cara memang dengan jalan 'penyelundupan'. Entah bagaimana caranya, yang jelas lewat jalur tidak resmi.

Tentu rekan-rekan kita bangsa Palestina sudah memikirkan teknisnya. Sehingga kita barangkali tidak perlu jauh-jauh datang ke sana untuk menyerahkan bantuan. Sebab ternyata para aktifis dakwah dari Palestina telah tersebar ke seantero jagad. Mereka sudah bekerja secara profesional dan maju. Mereka punya jaringan, pers, kontak-kontak person bahkan situs dan televisi.

Sehingga semua itu akan membantu tersebarnya informasi tentang Palestina dan sekaligus bisa menjadi sarana untuk menyampaikan bantuan. Tinggal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita bisa memastikan orang-orang atau institusi yang kita serahkan amanah bantuan itu memang bisa masuk dan menyerahkan bantuan.

Di Indonesia, kalau kita mau menyerahkan bantuan berupa dana, tidak terlalu masalah. Karena di negeri kita cukup banyak yayasan atau lembaga kemanusiaan yang berafiliasi kepada rakyat Palestina. Boleh dibilang hampir semua lembaga bantuan keIslaman ikut bergabung untuk mengumpulkan bantuan.

Ambil contoh Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) yang beranggotakan beberapa lembaga kemanusiaan seperti PKPU, BAZNAS, BSMI, RZI, DSUQ, FOZ, KISPA, COMES, YDSF, DPU-DT dan Portal Infaq. Instituiini pernah mengumpulkan dana dari masyarakat Indonesia untuk disampaikan kepada pengungsi di Libanon dan Palestina. Jumlah total sumbangan yang dihimpun sebesar Rp 5 miliar lebih. (baca: http://www.eramuslim.com/berita/nas/6815115300-knrp-kirim-tim-kemanusiaan-ke-libanon-dan-palestina.htm? Rel)

Maka jangan ragu-ragu untuk bersedekah dan menginfakkan dana di jalan Allah. Semoga amal ini bisa menjadi abadi dan dicatat sebagai pemberat timbangan amal kita di akhirat kelak. Amien...

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

sumber:eramuslim.com

Berdosakah Muslim Mendesain Kartu Ucapan Natal?

Assalamualikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, bagaimanakah hukumnya bila kita seorang muslim yang bekerja sebagai pengrajin seni diminta untuk membuatkan desain ucapan selamat Natal dan tahun Baru oleh konsumennya?

Saya takut perbuatan itu adalah suatu sikap yang tak langsung ikut mengucapkan selamat natal yang saya ketahui selama ini hukumnya haram.

Mohon Penjelasannya.

Wassalam,

Harno Bhimantoro
satriamadangkara

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apa yang anda tanyakan memang sangat terkait dengan hukum mengucapkan selamat natal. Umumnya di negeri kita ini, kebanyakan umat Islam berpendapat bahwa mengucapkan selamat natal itu haram hukumnya. Biasanya, rujukannya adalah apa yang dikatakan oleh AL-Imam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya, Iqtidha' Ash-shirath Al-Mustaqim.

Dan termasuk ke dalam perkara mengucapkan selamat natal adalah membuat kartu ucapan, meski atas pesanan orang lain. Namun pembuat atau desainernya tidak bisa berlepas diri dari andil pengucapan selamat natal.

Bila anda berkeyakinan bahwa mengucapkan selamat natal kepada pemeluk Nasrani hukumnya haram, tentu saja membuat desain kartu ucapannya juga ikut haram. Sebab desain itu bagian tak terpisahkan dari ucapan selamat natal. Hukum keduanya tidak bisa dipisahkan. Bahkan boleh jadi, hukumnya lebih berat dari sekedar mengucapkan, sebab desain itu tertulis dan akan terus menerus dibaca orang. Apalagi bila desain itu dicetak dalam jumlah besar.

Kami katakan bahwa hukum yang anda tanyakan kembali kepada hukum mengucapkan selamat natal. Sudah populer di kalangan umat Islam tentang keharaman mengucapkan selamat natal.

Alasannya utamanya adalah bahwa mengucapkan selamat natal itu berarti pengakuan atas kebenaran aqidah umat kristiani yang mempercayai keberadaan tiga tuhan. Juga merupakan bentuk pembenaran atas ketuhanan nabi Isa alaihissalam.

Fatwa Haram Ibnul Qayyim

Pendapat anda yang mengharamkan natal itu memang telah difatwakan oleh Ibn al-Qayyim Al-Jauziyah. Beliau pernah menyampaikan bila pemberian ucapan “Selamat Natal” atau mengucapkan “Happy Christmas” kepada orang-orang kafir hukumnya haram.

Sebagaimana dinukil dari Ibn al-Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya 'Ahkâm Ahl adz-Dzimmah', beliau berkata, “Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram menurut kesepakatan para ulama.

Alasan Ibu al-Qayyim, menyatakan haram ucapan selamat kepada orang-orang Kafir berkenaan dengan perayaan hari-hari besar keagamaan mereka karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang mereka lakukan.

Sikap ini juga sama pernah disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin sebagaimana dikutip dalam Majma’ Fatawa Fadlilah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, (Jilid.III, h.44-46, No.403).

Adakah Perbedaan Pendapat Dalam Ucapan Selamat Natal?

Lepas dari pendapat kalangan yang mengharamkan, ternyata ada sebagian ulama yang berpandangan bahwa sekedar mengucapkan selamat natal tidak mengapa. Yang haram secara mutlak adalah perayaan natal bersama. Keharamannya telah disepakati oleh semua kalangan.

Memang pendapat yang membolehkan ini kurang populer di banyak kalangan. Namun kalau kita mau agak teliti dan jujur, rupanya yang menghalalkan tidak sedikit. Bukan hanya Dr. Quraisy Syihab saja, tetapi bahkan Majelis Ulama Indonesia, Dr. Yusuf Al-Qaradawi dan beberapa ulama dunia lainnya, ternyata kita dapati pendapat mereka membolehkan ucapan itu.

Rasanya agak kaget juga, tetapi itulah yang kita dapat begitu kita agak jauh menelitinya. Kami uraikan di sini petikan-petikan pendapat mereka, bukan dengan tujuan ingin mengubah pandangan yang sudah ada. Tetapi sekedar memberikan tambahan wawasan kepada kita, agar kita punya referensi yang lebih lengkap.

Fatwa MUI Tentang Haramnya Natal Bersama, Bukan Ucapan Selamat Natal

Majelis Ulama Indonesia pada 7 Maret 1981, sebagaimana ditandatangani K.H. M. Syukri Ghozali, MUI telah mengeluarkan fatwa yang isinya: Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.

Namun Sekretaris Jenderal MUI, Dr. Dien Syamsudin MA, yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu menyatakan bahwa MUI tidak melarang ucapan selamat Natal, tapi melarang orang Islam ikut sakramen/ritual Natal.

"Kalau hanya memberi ucapan selamat tidak dilarang, tapi kalau ikut dalam ibadah memang dilarang, baik orang Islam ikut dalam ritual Natal atau orang Kristen ikut dalam ibadah orang Islam," katanya.

Bahkan pernah di hadapan ratusan umat Kristiani dalam seminar Wawasan Kebangsaan X BAMAG Jatim di Surabaya, beliau menyampaikan, "Saya tiap tahun memberi ucapan selamat Natal kepada teman-teman Kristiani." (lihat hidayatullah.com)

Fatwa Dr. Yusuf Al-Qaradawi

Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa merayakan hari raya agama adalah hak masing-masing agama. Selama tidak merugikan agama lain. Dan termasuk hak tiap agama untuk memberikan tahni'ah saat perayaan agama lainnya.

Maka kami sebagai pemeluk Islam, agama kami tidak melarang kami untuk untuk memberikan tahni'ah kepada non muslim warga negara kami atau tetangga kami dalam hari besar agama mereka. Bahkan perbuatan ini termasuk ke dalam kategori al-birr (perbuatan yang baik). Sebagaimana firman Allah SWT:

لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم في الدين ولم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم وتقسطوا إليهم إن الله يحب المقسطين

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Kebolehan memberikan tahni'ah ini terutama bila pemeluk agama lain itu juga telah memberikan tahni'ah kepada kami dalam perayaan hari raya kami.

وإذا حييتم بتحية فحيوا بأحسن منها أو ردوها

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.(QS. An-Nisa': 86)

Namun Syeikh Yusuf Al-Qaradawi secara tegas mengatakan bahwa tidak halal bagi seorang muslim untuk ikut dalam ritual dan perayaan agama yang khusus milik agama lain.

Fatwa Dr. Mustafa Ahmad Zarqa'

Di dalam bank fatwa situs Islamonline.com, Dr. Mustafa Ahmad Zarqa', menyatakan bahwa tidak ada dalil yang secara tegas melarang seorang muslim mengucapkan tahniah kepada orang kafir.

Beliau mengutip hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah berdiri menghormati jenazah Yahudi. Penghormatan dengan berdiri ini tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang diajut jenazah tersebut.

Sehingga menurut beliau, ucapan tahni'ah kepada saudara-saudara pemeluk kristiani yang sedang merayakan hari besar mereka, juga tidak terkait dengan pengakuan atas kebenaran keyakinan mereka, melainkan hanya bagian dari mujamalah (basa-basi) dan muhasanah seorang muslim kepada teman dan koleganya yang kebetulan berbeda agama.

Dan beliau juga memfatwakan bahwa karena ucapan tahni'ah ini dibolehkan, maka pekerjaan yang terkait dengan hal itu seperti membuat kartu ucapan selamat natal pun hukumnya ikut dengan hukum ucapan natalnya.

Namun beliau menyatakan bahwa ucapan tahni'ah ini harus dibedakan dengan ikut merayakan hari besar secara langsung, seperti dengan menghadiri perayaan-perayaan natal yang digelar di berbagai tempat. Menghadiri perayatan natal dan upacara agama lain hukumnya haram dan termasuk perbuatan mungkar. (lihat IslamOnline)

Majelis Fatwa dan Riset Eropa

Majelis Fatwa dan Riset Eropajuga berpendapat yang sama dengan fatwa Dr. Ahmad Zarqa' dalam hal kebolehan mengucapkan tahni'ah, karena tidak adanya dalil langsung yang mengharamkannya.

Khusus untuk masalah kartu ucapan, mereka mengharamkan bila dalam kartu itu ada gambar salibnya, karena merupakan kemungkaran dan Islam tidak menerima penyaliban nabi Isa as.

Juga disyaratkan bahwa ucapan itu tidak mengandung hal-hal yang mungkar dan merusak aqidah Islam. Jadi hanya sebatas tahni'ah, tidak ditambahi dengan ungkapan-ungkapan lainnya yang justru bertabrakan dengan aqidah Islam. (lihat:Islam Online)

Fatwa Dr. Abdussattar Fathullah Said

Dr. Abdussattar Fathullah Said adalah profesor bidang tafsir dan ulumul quran di Universitas Al-Azhar Mesir. Dalam masalah tahni'ah ini beliau agak berhati-hati dan memilahnya menjadi dua. Ada tahni'ah yang halal dan ada yang haram.

Tahni'ah yang halal adalah tahni'ah kepada orang kafir tanpa kandungan hal-hal yang bertentangan dengan syariah. Hukumnya halal menurut beliau. Bahkan termasuk ke dalam bab husnul akhlaq yang diperintahkan kepada umat Islam.

Sedangkan tahni'ah yang haram adalah tahni'ah kepada orang kafir yang mengandung unsur bertentangan dengan masalah diniyah, hukumnya haram. Misalnya ucapan tahniah itu berbunyi, "Semoga Tuhan memberkati diri anda sekeluarga." Sedangkan ucapan yang halal seperti, "Semoga tuhan memberi petunjuk dan hidayah-Nya kepada Anda ."

Bahkan beliau membolehkan memberi hadiah kepada non muslim, asalkan hadiah yang halal, bukan khamar, gambar maksiat atau apapun yang diharamkan Allah.

25 Desember Bukan Hari Lahir Nabi Isa

Lepas dari perdebatan seputar fatwa haramnya mengucapkan selamat natal, ada masalah yang lebih penting lagi. Yaitu kesepakatan para ahli sejarah bahwa Nabi Isa sendiri tidak lahir di tanggal tersebut.

Tidak pernah ada data akurat pada tanggal berapakah beliau itu lahir. Yang jelas 25 Desember itu bukanlah hari lahirnya karena itu adalah hari kelahiran anak Dewa Matahari di cerita mitos Eropa kuno. Mitos itu pada sekian ratus tahun setelah wafatnya nabi Isa masuk begitu saja ke dalam ajaran kristen lalu diyakini sebagai hari lahir beliau. Padahal tidak ada satu pun ahli sejarah yang membenarkannya.

Bahkan British Encylopedia dan American Ensyclopedia sepakat bahwa 25 bukanlah hari lahirnya Isa as.

Jadi kalau pun ada sebagain kalangan yang tidak mengharamkan ucapan selamat natal, ketika diucapkan pada even natal, ucapan itu mengandung sebuah kesalahan ilmiyah yang fatal.

Walahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

sumber:eramuslim.com